Selasa, 30 Juli 2013

Perguruan Silat Cingkrik Lengkong Wetan Ikut Bertanding Dan Berpartisifasi Di Festival Pencak Silat Indonesia 2012

Gaya sebelelum bertanding

Jakarta - Pencak Silat berkesan kasar dan keras. Tapi di balik itu, silat punya gerakan seni yang indah. Silat sebagai wisata olahraga inilah yang ditampilkan dalam Festival Seni Pencak Silat Indonesia 2012.

Ada yang berbeda dari pertandingan silat yang digelar Asosiasi Perguruan pencak Silat Budaya Indonesia (APPSBI) dan Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI). Alih-alih menjatuhkan lawan, dalam festival ini para pendekar mempertontonkan ciri khas dari masing-masing perguruan yang dikolaborasi dengan seni gerak dan musik.

Mulai Jumat (16/11) Taman Rekreasi Wiladatika di Jl Jambore 1, Ciracas, Cibubur, Jakarta Timur, 'diserbu' oleh ratusan pesilat dari seluruh Indonesia. Bukan untuk mencari keributan, kedatangan para pendekar ini untuk mengikuti Festival Seni Pencak Silat Indonesia yang digelar 3 hari sampai 18 November 2012.

Pencak silat memang bukan sekadar jurus-jurus bela diri untuk melumpuhkan lawan. Tapi juga merupakan olah mental spiritual dalam gerak seni sehingga mampu menjadi penyelaras jiwa dengan alam semesta dan penciptanya.

Pada Sabtu (17/18) rampak gendang, gong, dan beberapa alat musik tradisional terdengar dari panggung utama. Tak jarang, wisatawan yang sedang berlibur di Taman Rekreasi Wiladatika penasaran dan datang ke arena festival. Sekitar 30 perguruan silat yang tersebar di seluruh Indonesia pun unjuk keahlian.

Tidak hanya dari Jakarta, peserta festival juga berasal dari berbagai provinsi seperti Jawa Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan beberapa provinsi lainnya. Beberapa perguruan yang mengikuti festival ini yaitu KPS Nusantara Sulawesi Selatan, Pusaka Djakarta, Selempang Betawi, Panglipur Puseur Bumi, Gelar Pusaka Pusat Bandung, Manusia Perisai Biru, Perguruan Silat Cingkrik Lengkong Wetan, TTKKDH, Putra Setia, dan masih banyak lagi.

Panggung festival berukuran 16x8 meter itu telihat megah berlaskan matras dan tata lampu yang indah. Hadir dalam acara pembukaan festival Mayjen (Purn) Eddie M Nalapraya, sesepuh dan tokoh Pencak Silat Nasional Hayono Isman selaku Ketua Umum Pengurus Nasional FORMI, juga Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto. Hadir pula Uci Sanusi selaku Ketua APPSBI dan tokoh silat Betawi yang juga menjadi salah satu pembuat film "Si Pitung 1" sampai "Si Pitung 4".

Saat pembukaan, kemeriahan acara sudah sangat terasa ketika perguruan pencak silat Panlipur Galih Garut membuka gelanggang. Kemudian, riuh tepuk tangan semakin terdengar ketika perguruan TTKKDH Kota Serang, Banten menampilkan atraksi debus dan mengajak Hayono Isman memainkan debus.

Mengangkat tema "Budaya Kita Budaya Dunia", Festival Seni Pencak Silat Indonesia 2012 ini dibuat untuk mempertahankan kebudayaan dan ciri khas bela diri asli Indonesia. Semua perguruan memperlihatkan ciri khas masing-masing. Pendekar-pendekar cantik dari Panglipur Puseur Bumi dari Bandung misalnya, tampil dengan jurus kipas dan cerita khas tanah Pasundan. Selain Puseur Bumi, ada juga perguruan Gelar Pusaka Pusat Bandung dan Kujang Pusaka.

Selain kipas, para peserta ini juga mahir menggunakan beragam senjata seperti golok, trisula, toya, pisau, pecut, celurit, pacul, dan kujang juga menjadi daya tarik yang berhasil mengundang decak kagum para penonton. Masing-masing perguruan rata-rata menggunakan sekitar 10-15 orang.

Koreografi yang digunakan juga sangat atraktif dan keren. Permainan pukulan tangan yang super cepat, gerakan saling putar dan membanting lawan pun dilakukan! Panas terik saat siang hari dan hujan deras saat malam hari tidak meyurutkan semangat peserta.

Kebanyakan dari perguruan menghadirkan cerita dari daerah asal. Salah satunya Pusaka Djakata yang tampil dengan cerita seorang pendekar "Mat Pacul" yang mengalahkan tuan tanah pada zaman pendudukan Belanda.

Selain cerita, beberapa perguruan juga datang dengan alat musik yang unik. Salah satu yang membuat traveler penasaran adalah perguruan Kujang Pusaka dari Bandung yang menggunakan alat musik tradisional dari bambu. Uniknya, ada yang bisa mengeluarkan suara seperti air mengalir yaitu terompet dari batang bambu. Terompet ini mirip dengan terompet khas suku Aborigin bernama 'didgeridoo'. Keren!

Makin malam, suasana semakin ramai meski hujan yang mengguyur sangat deras acara terus berjalan. Hingga tepat pukul 24.00 WIB festival ditutup dengan pesta kembang api dan pembagian medali pada 10 besar perguruan terbaik.

Acara tak berhenti di situ. Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan sesi sarasehan atau diskusi bersama para pakar silat budaya dan Mantan Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia, Edi Sedyawati. Sarasehan ini pun diikuti oleh seluruh peserta dan beberapa wisatawan pengunjung Taman Wiladatika.

Jumat, 14 Juni 2013

Lestarikan Budaya Betawi, Pemkot Tangsel Dirikan Rumah Seni dan Budaya Lengkong

Lestarikan Budaya Betawi, Pemkot Tangsel Dirikan Rumah Seni dan Budaya Lengkong

Peresmian Rumah Budaya dan Seni Lengkong (shaq)
Peresmian Rumah Budaya dan Seni Lengkong

Kedatangan Wakil Walikota Tangerang Selatan (Tangsel), Benyamin Davnie, bukannya disambut penerima tamu layaknya kunjungan ke daerah. Tiga orang pendekar kampung setempat justru langsung menghadang kedatangan rombongan Wakil Walikota ke daerah Lengkong Wetan Kecamatan Serpong Kota Tangsel.
Untuk dapat masuk ke kampung tersebut, rombongan Wakil Walikota ini bahkan harus menurunkan tiga pendekar yang ikut dalam rombongan. Beradu pantun dan kepiawaian bermain silat pun harus mereka lakukan untuk dapat menaklukkan penjaga wilayah ini.
Setelah mampu ditundukkan, barulah rombongan Wakil Walikota ini dapat memasuki wilayah dan mengikuti acara.
Penghadangan ini bukanlah kejadian yang sebenarnya. Adegan ini adalah merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi milik masyarakat Betawi yang kini mulai punah tergerus jaman.
Adalah tradisi Palang Pintu, budaya Betawi yang dulu hanya digunakan pada saat acara pernikahan masyarakat Betawi, seiring perkembangan jaman, tradisi ini tidak saja digunakan untuk hajat pernikahan namun juga dalam acara-acara resmi masyarakat seperti penyambutan pejabat.
Seni Budaya Betawi - Palang Pintu (shaq)
Seni Budaya Betawi – Palang Pintu

Ironisnya, budaya yang sarat makna ini justru mulai hilang dan hanya segelintir masyarakat yang masih menggunakan tradisi ini.
Selain karena membutuhkan biaya yang lumayan besar, penggunaan tradisi ini membutuhkan kepiawaian khusus seperti beradu pantun dan keahlian memainkan silat dalam setiap adegan.
Hampir punahnya tradisi ini, tidak dipungkiri akibat besarnya perambahan perkembangan jaman. Dan untuk melestarikannya dibutuhkan latihan serius untuk mendalami silat, untuk dapat bermain silat pun membutuhkan proses panjang, yakni harus mendalami ngaji, sholat dan solawat, baru bisa menekuni ilmu silat itu sendiri.
Meski demikian, sejak beberapa tahun terakhir, perguruan silat Cingkrik, yang berlokasi di Lengkong Wetan Kecamatan Serpong Kota Tangsel ini mulai serius membangkitkan kembali berbagai budaya betawi, agar dapat dipertahankan sebagai salah satu khasanah bangsa yang kini mulai ditinggalkan.
Seni Budaya Betawi - Palang Pintu (shaq)
Seni Budaya Betawi – Palang Pintu

Bahkan untuk memperluas membangkitkan budaya, kini tidak hanya silat saja yang mulai diseriusi untuk kembali dilestarikan, namun juga budaya budaya yang lainnya seperti Lenong, Gambang Kromong, Tanjidor dan lain lainnya dengan membuat Rumah Seni dan Budaya Lengkong.
Keinginan untuk melestarikan budaya ini disambut baik berbagai kalangan, tidak hanya tokoh betawi seperti Tommy Kurniawan dan Haji Mandra saja, namun juga sejumlah ulama yang turut menghadiri acara ini yakni Kyai Haji Abdullah Gymnastiar atau biasa dikenal dengan Aa Gym.
Agar budaya ini tetap terjaga, diperlukan perhatian lebih dari pemerintah daerah untuk ikut membantu melestarikan, bukan hanya budaya  Palang Pintu, namun  juga budaya lainnya.
Pemerintah Kota Tangsel sendiri tidak hanya akan membangkitkan seni budaya betawi saja, “seluruh budaya yang ada di wilayah Tangsel yang multi kultural, namun demikian budaya betawi tetap akan dipertahankan dan dipupuk sebagai kultur dasar masyarakat Kota Tangsel” Ujar Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie, Sabtu 11 Mei 2013.
Seni Budaya Betawi - Palang Pintu (shaq)
Seni Budaya Betawi – Palang Pintu

Untuk pembinaan dalam pelestarian budaya ini, kata Wakil Walikota,  Pemkot Tangsel akan mendorong Rumah Budaya dan Seni Lengkong ini untuk membuat badan hukum agar dapat dimasukkan dalam program budaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Nantinya, selain untuk memupuk rasa kecintaan pada budaya lokal, Pemkot Tangsel juga akan terus menampilkan beragam budaya betawi ini dalam setiap kegiatan pemerintahan. “diharapkan budaya betawi ini dapat menjadi salah satu ikon dan daya tarik wisata di Kota Tangsel”

Jumat, 21 September 2012

Perguruan Silat Cingkrik Rawa Belong Cabang Lengkong Wetan

  Sejarah Silat Cingkrik 

Silat Cingkrik adalah seni bela diri Indonesia yang perkembangannya termasyur di wilayah Betawi dan telah berumur ratusan tahun dan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
           Di tiap-tiap daerah di Indonesia ada tokoh-tokoh pencak silat yang ternama. Salah satu tokoh silat Cingkrik ini diantaranya adalah  Si Pitung yang menjadi legenda di kalangan masyarakat Betawi.  Si Pitung bagi masyarakat Betawi adalah pendekar dan pahlawan pembela kaum lemah dari kesewenang-wenangan penjajah Belanda dan antek-anteknya.
Si Pitung beliau belajar pencak silat dari seorang haji yang berasal dari daerah Menes di Banten Jawa Barat. Beliau menyebar-luaskan pencak silat cingkrik Betawi ini ke daerah Marunda dan ke daerah Rawa Belong Kebon Jeruk serta daerah Jakarta dan sekitarnya.

Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun Silat.
Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
       
        Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik.
Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu.
Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali.

Ki Saari
         Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong.

Ki Ajid
         Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid.
Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung.
Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Sekeng yang mengajar Silat Cingkrik Di kampung Perigi Kelurahan Lengkong Wetan Kota Tangerang Selatan

     Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah.

Jurus Cingkrik ada 12 yaitu :
Jurus 1 : Jalan Beset
Jurus 2 : Beset Gebrak
Jurus 3 : Sabet Cingkrik
Jurus 4 : Buka Satu
Jurus 5 : Saup
Jurus 6 : Langkah Tiga
Jurus 7 : Langkah Empat
Jurus 8 : Bacok Tiktuk
Jurus 9 : Bongkar Macam
Jurus 10 : Singa
Jurus 11 : Lokbe
Jurus 12 : Longok
       Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut:
Sambut 7 muka
Sambut Bongkar kuping
Sambut Gulung
Sambut Detik/Habis
 ini adalah salah satu sambut dengan menggunakan golok
       Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai Bongbang, yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung.

Pedepokan Cingkrik Lengkong Wetan

     Pedepokan ini berdiri sejak tahun 2009 yang bertempat di halaman rumah Bpk Mulud pedepokan ini di ketuai oleh Bang Rahmad Hidayat anak dari Bpk Mulud. di pedepokan berjalan kegiatan Silat Cingkrik.

   Yang beralamat di Jl. Bintaro-BSD, Kp. Perigi Rt. 03/010 Kel. Lengkong Wetan

Kec. Serpong, Kota Tangerang Selatan Telp : (021) 91606773 / 083896721667

    
  Silat Cingkrik di lengkong wetan di bimbing oleh guru silat cingkrik yang berasal dari rawa belong yaitu Bang Sekeng

        Bang Sekeng adalah seorang guru silat yang sudah berpengalaman dalam beladiri. bang sekeng bukan hanya mengajar di lengkong wetan, tapi beliau mengajar juga di daerah Kemandoran, Pondok Aren
dan Bang Sekeng juga mengajar di sekolah MI Al Falah, Lengkong gudang timur.

         walaupun Bang Sekeng mengajar silat tapi Bang Sekeng tetap masih belajar silat dan mengembangkanya. sehingga Bang Sekeng dapat menciptakan jurus baru yaitu Jurus Cingkrik Pemahaman Satu.



kegiatan Silat Cingkrik sudah resmi di lengkong wetan, yang meresmikan Pedepokan Silat Cingkrik lengkong wetan adalah Bpk Wakil Wali Kota Tangerang Selatan,

     Silat Cingkrik Lengkong Wetan juga menerima murid baru yang ingin mendaftar sebagai murid di Perguruan Silat Cingkrik Lengkong Wetan dengan mengisi formulir yang sudah ada